Transcription of PENYELIDIKAN GEOFISIKA, GEOLOGI, DAN GEOKIMIA PADA …
1 PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-10 PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DI INDONESIA 13 14 SEPTEMBER 2017; GRHA SABHA PRAMANA 1435 PENYELIDIKAN GEOFISIKA, GEOLOGI, DAN GEOKIMIA PADA PANAS BUMI NON-VULKANIK DI PULU sulawesi TENGAH Mauludin Kurniawan1* Nunik Rezkiarti Janat2 Moh. Dahlan Th. Musa3 Romli Alfian Febrianto 4 Azmi Maulana5 Rahmania 6 1 Jurusan Fisika Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia 2 Jurusan Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia 3 Jurusan Fisika Universitas Tadulako, Palu, Indonesia 4 Geoforensics Research Group, Yogyakarta, Indonesia 5 Jurusan Teknik Geologi Institut Sains dan Teknologi AKPRIND, Yogyakarta, Indonesia 6 Jurusan Fisika Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia * ABSTRAK Salah satu alternatif sumberdaya energi yang ada adalah panas bumi.
2 Di Lembah Palu banyak dijumpai manifestasi panas bumi berupa mataair panas, diantara dapat ditemukan di Pulu, Mapane, Kabuliburo, Sibalaya, Limba, Walatana dan Simoro dengan temperature antara 40-950C dengan pH netral ( 8,6). Kehadiran manifestasi mataair panas ini diakibatkan oleh tatanan geologi lembah palu yang kompleks. Struktur geologi di Lembah Palu dikontrol oleh kehadiran sesar palu koro. Sumber panas berasosiasi dengan batuan terobosan yang tidak muncul dipermukaan. Pada umumnya mata air panas di daerah ini termasuk ke dalam tipe air panas bikarbonat yang sebagian berupa immature waters seperti Sibalaya, Walatana, Limba dan Simoro, sedangkan Pulu, Mapane dan Kabuliburo berada didaerah partial equilibrium Estimasi temperatur bawah permukaan sekitar 1800 C.
3 Di daerah penelitian dilakukan pengukuran geofisika berupa metode geomagnet dan metoda geolistrik tahanan jenis Vertical Elektrical Sounding (VES). Penelitian ini bertujuan (1) Untuk mengidentifikasi kedalaman curie sumber panas bumi berdasarkan data geomagnet, (2) gambaran keadaan struktur bawah permukaan berdasarkan data geomagnet dan geolistrik. Berdasarkan peta kontur anomali medan magnet, diperoleh nilai anomali magnet tinggi (210 nT), dan anomali magnet rendah (-10 nT). Teknik analisis untuk geomagnet yang digunakan adalah teknik analisis spektrum untuk memperoleh kedalaman dan model perlapisan kedalaman sumber panas bumi didaerah penelitian. Hasil pengolahan data dengan analisis spektrum, dapat diestimasi kedalaman sumber panas bumi (Z0) sekitar 1-2,6 km di bawah permukaan laut.
4 Berdasarkan data geolistrik diperoleh hasil berupa hasil berupa : keadaan bawah permuaan daerah pulu terdiri atas 5 lapisan dan dijumpai sesar. Berdasarkan analis second verticale derivative (SVD) didaerah penelitian dijumpai sesar. Kata kunci : Curie Depth, Geomagnet, Geolistrik, Second Vertical Derivative (SVD) 1. Pendahuluan Meningkatnya permintaan energi mendorong kita untuk menemukan sumber energi baru (energi alternatif). Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah memanfaatkan sumber energi panas bumi. Energi panas bumi adalah energi panas yang tersimpan di bebatuan di bawah permukaan bumi. Pemanfaatan energi panas bumi untuk sektor non-listrik (penggunaan langsung) telah digunakan di Islandia selama 70 tahun.
5 Sementara, saat ini energi panas bumi telah dieksploitasi untuk pembangkit listrik di 24 negara, termasuk Indonesia. Sumber daya panas bumi banyak ditemukan di Indonesia yaitu sekitar 250 daerah kenampakan panas bumi dengan potensi sekitar MWe. Salah satunya terletak di sulawesi PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-10 PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DI INDONESIA 13 14 SEPTEMBER 2017; GRHA SABHA PRAMANA 1436 Tengah, yaitu lapangan panas bumi Pulu di Kabupaten Sigi. Sebuah studi tentang sumber panas bumi di daerah tersebut telah dilakukan oleh Bakrun dkk. (2003) bahwa lapangan panas bumi Pulu termasuk sebagai daerah dengan sumber panas bumi yang dapat dikembangkan sebagai energi alternatif untuk selanjutnya.
6 Guna mengetahui daerah potensi sumber panas bumi yang memenuhi kriteria untuk dieksploitasi maka diperlukan kajian yang koprehensip. Pada penlitian ini dilakukan penelitian terpadu geofisika, geologi, dan GEOKIMIA . Data geofisika yang digunakan merupakan data geomagnet dan data geolistrik. Untuk data geomagnet yaitu data sekunder yang diperoleh dari ESDM, dan data geolistrik merupakan data primer yang diperoleh langsung dari pengukuran di lapangan. Sementara data geologi dan GEOKIMIA merupakan data sekunder. Keberadaan manifestasi geothermal di wilaya penelitian erat kaitannya dengan keberadaan sesar palu-koro. Sesar palu koro merupakan salah satu sesar aktif yang berada dipulau sulawesi yang memiliki panjang kurang lebih 250 km dengan kecepatan pergerakan 14-17 mm/tahun.
7 Pergerakan tersebut mengotrol munculnya sumber mataair panas yang ada di lembah palu khususnya daerah pulu (Surdajat, 1981). Kontrol sesar terhadap keberadaan mata air panas di daerah penelitian ini membuat daerah ini menjadi unik, karena pada umunya sumber geothermal yang ada di Indonesia tersebar pada jalur gunungapi. Sementara sekitar 20 persen dari sumber geothermal yang ada terletak di luar jalur gunungapi dan sebagian besarnya tersebar di sulawesi Tengah, Selatan dan Tenggara (Suhanto, dkk., 2003). Penelitian geofisika di area penelitian menggunakan metode geolistrik dan geomagnetic pernah dilakukan oleh Bakrun et al. (2003) untuk memetakan anomali panas bumi. Akan tetapi kedalam sumber panas bumi (curie depth point) belum diketahui.
8 Mengacu pada teori yang diusulkan oleh Bhattacharyya (1966) dan evelopedby Spectorand and Grand (1970), Blakely (1988,1995), Tanaka et al. (1999), Francisco and Antonio (2003), Ross et al. (2006), and Espinosa-Cardena and Campos-Enriqez (2008) dalam Aboud et al. (2011) penentuan kedalaman sumber anomali dapat direpresentasikan dari penentuan kedalaman titik curie (Curie depth point) berdasarkan data geomagnet. Pada penelitian tersebut juga belum dilakukan deliniasi terhadap daerah yang diperkirakan sebagai sesar yang mengontrol keberadaan manifestasi panas bumi yang ada. Data geomagnet yang ada dianalisis menggunakan teknik analisis spectrum dan First Horizontal derivative (FHD).
9 Teknik analisis spektrum digunakan untuk mengestimasi kedalaman sumber panas bumi (Curie depth). Penentuan titik curie berdasarkan data anomali magnetic menggunakan analisis spectrum telah dilakukan oleh beberapa penelitian sebelumnya seperti Madem (2010), dan Aboud, et al. (2011). Untuk mendeliniasi keberadaan sesar digunakan teknik analisis First Horizontal derivative (FHD) seperti yang pernah dilakukan oleh Bournas dkk. (2001). 2. Metode Penelitian Studi pada daerah penelitian ini, menggunakan 3 pendekatan yaitu dari aspek geofisika, geologi, dan GEOKIMIA . Pada aspek geofiska digunakan 2 metode geofisika yaitu metode geomagnet dan metode geolistrik. Teknik analisis yang digunakan pada metode geomagnet yaitu dengan mengggunakan analisis first horizontal derivative (FHD) dan analisis spektrum.
10 Analisis FHD digunakan utuk menentukan batas anomali yang kemudian diinterpretasi sebagai sesar. Sedangkan pada analisis spektrum digunakan sebagai penentuan depth curie untuk mengetahui Heat Source. Salah satu metode geofisika yang biasa digunakan untuk pemetaan anomali pada daerah geothermal adalah metede geomagnet. Pada lapangan geothermal, metode geomagnet digunakan untuk menentukan variasi magnetik. Variasi magentik disebabkan oleh ketidakhomogenan sifat PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-10 PERAN PENELITIAN ILMU KEBUMIAN DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DI INDONESIA 13 14 SEPTEMBER 2017; GRHA SABHA PRAMANA 1437 magentik pada kulit Bumi. Batuan pada daerah system geothermal umumnya memiliki magnetisasi yang kecildibandingkan dengan batuan disekitarnya.