Transcription of MODEL-MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF
1 MakalahI Wayan SantyasaDisajikan dalam pelatihan tentang Penelitian Tindakan Kelas bagi Guru-Guru SMP dan SMA di Nusa Penida,tanggal 29 Juni 1 Juli 20071 MODEL-MODEL PEMBELAJARAN INOVATIFI Wayan SantyasaJurusan Pendidikan Fisika FPMIPA Universitas Pendidikan GaneshaMakalah ini menyajikan tiga bagian pokok tentang PEMBELAJARAN ,yaitu (1) PEMBELAJARAN menurut paradigma konstruktivistik, (2) model -ModelPembelajaran, dan (3) Penutup. MODEL-MODEL PEMBELAJARAN tersebut, adalahmodel problem solving dan reasoning, model inquiry training, model problem-based instruction, model PEMBELAJARAN perubahan konseptual, model menurut Paradigma KonstruktivistikSebuah paradigma yang mapan yang berlaku dalam sebuah sistem boleh jadimengalami malfungsi apabila paradigma tersebut masih diterapkan pada sistem yang telahmengalami perubahan.
2 Paradigma yang mengalami anomali tersebut cenderungmenimbulkan krisis. Krisis tersebut akan menuntut terjadinya revoluasi ilmiah yangmelahirkan paradigma baru dalam rangka mengatasi krisis yang terjadi (Kuhn, 2002).Paradigma konstruktivistik tentang PEMBELAJARAN merupakan paradigma alternatif yangmuncul sebagai akibat terjadinya revolusi ilmiah dari sistem PEMBELAJARAN yang cenderungberlaku pada abad industri ke sistem PEMBELAJARAN yang semestinya berlaku pada abadpengetahuan sekarang paradigma konstruktivistik, ilmu pengetahuan bersifat sementara terkaitdengan perkembangan yang dimediasi baik secara sosial maupun kultural, sehinggacenderung bersifat subyektif. Belajar menurut pandangan ini lebih sebagai proses regulasidiri dalam menyelesikan konflik kognitif yang sering muncul melalui pengalaman konkrit,wacana kolaboratif, dan interpretasi.
3 Belajar adalah kegiatan aktif siswa untuk membangunpengetahuannya. Siswa sendiri yang bertanggung jawab atas peistiwa belajar dan hasilbelajarnya. Siswa sendiri yang melakukan penalaran melalui seleksi dan organisasipengalaman serta mengintegrasikannya dengan apa yang telah diketahui. Belajarmerupakan proses negosiasi makna berdasarkan pengertian yang dibangun secara bermakna terjadi melalui refleksi, resolusi konflik kognitif, dialog, penelitian,pengujian hipotesis, pengambilan keputusan, yang semuanya ditujukan untukmemperbaharui tingkat pemikiran individu sehingga menjadi semakin Wayan SantyasaDisajikan dalam pelatihan tentang Penelitian Tindakan Kelas bagi Guru-Guru SMP dan SMA di Nusa Penida,tanggal 29 Juni 1 Juli 20072 Paradigma konstruktivistik merupakan basis reformasi pendidikan saat ini.
4 Menurutparadigma konstruktivistik, PEMBELAJARAN lebih mengutamakan penyelesaian masalah,mengembangkan konsep, konstruksi solusi dan algoritma ketimbang menghafal prosedurdan menggunakannya untuk memperoleh satu jawaban benar. PEMBELAJARAN lebih dicirikanoleh aktivitas eksperimentasi, pertanyaan-pertanyaan, investigasi, hipotesis, dan MODEL-MODEL yang dibangkitkan oleh siswa sendiri. Secara umum, terdapat lima prinsip dasaryang melandasi kelas konstruktivistik, yaitu (1) meletakkan permasalahan yang relevandengan kebutuhan siswa, (2) menyusun PEMBELAJARAN di sekitar konsep-konsep utama, (3)menghargai pandangan siswa, (4) materi PEMBELAJARAN menyesuaikan terhadap kebutuhansiswa, (5) menilai PEMBELAJARAN secara yang lebih penting, bagaimana guru mendorong dan menerima otonomi siswa,investigasi bertolak dari data mentah dan sumber-sumber primer (bukan hanya buku teks),menghargai pikiran siswa, dialog, pencarian, dan teka-teki sebagai pengarah tradisional, PEMBELAJARAN telah dianggap sebagai bagian menirukan suatuproses yang melibatkan pengulangan siswa, atau meniru-niru informasi yang barudisajikan dalam laporan atau quis dan tes.
5 Menurut paradigma konstruktivistik, PEMBELAJARAN lebih diutamakan untuk membantu siswa dalam menginternalisasi,membentuk kembali, atau mentransformasi informasi menginternalisasi serta dapat menerapkan PEMBELAJARAN menurutparadigma konstruktivistik, terlebih dulu guru diharapkan dapat merubah pikiran sesuaidengan pandangan konstruktivistik. Guru konstruktivistik memiliki ciri-ciri otonomi dan inisiatif data primer dan bahan manipulatif dengan penekanan padaketerampilan berpikir kinerja siswa berupa mengklasifikasi, mengananalisis, memprediksi,dan mengkreasi dalam mengerjakan respon siswa dalam PEMBELAJARAN dan mengubah model atau strategipembelajaran sesuai dengan karakteristik materi pemahaman siswa tentang konsep-konsep yang akan dibelajarkan sebelumsharing pemahamannya tentang konsep-konsep Wayan SantyasaDisajikan dalam pelatihan tentang Penelitian Tindakan Kelas bagi Guru-Guru SMP dan SMA di Nusa Penida.
6 Tanggal 29 Juni 1 Juli peluang kepada siswa untuk berdiskusi baik dengan dirinya maupundengan siswa yang sikapinquiry siswa dengan pertanyaan terbuka yang menuntut merekauntuk berpikir kritis dan berdiskusi antar respon awal siswa dalam pengalaman-pengalaman yang dapat menimbulkankontradiksi terhadap hipotesis awal mereka dan kemudian mendorong kesempatan yang cukup kepada siswa dalam memikirkan danmengerjakan sikap ingin tahu siswa melalui penggunaan model PEMBELAJARAN Tujuan dan Hasil BelajarSeirama dengan kesesuaian penerapan paradigma desain PEMBELAJARAN , tidakterlepas pula dalam penetapan tujuan belajar yang disasar dan hasil belajar belajar menurut paradigma konstruktivistik mendasarkan diri pada tigafokus belajar, yaitu: (1) proses, (2) tranfer belajar, dan (3) bagaimana belajar.
7 Fokus yang pertama proses, mendasarkan diri padanilai sebagai dasar untukmempersepsi apa yang terjadi apabila siswa diasumsikan tersebut didasarioleh asumsi, bahwa dalam belajar, sesungguhnya siswa berkembang secara alamiah. Olehsebab itu, paradigma PEMBELAJARAN hendaknya mengembalikan siswa ke fitrahnya sebagaimanusia dibandingkan hanya menganggap mereka belajar hanya dari apa yangdipresentasikan oleh guru. Implikasinilai tersebut melahirkan komitmen untuk beralih darikonsep pendidikan berpusat pada kurikulum menuju pendidikan berpusat pada pendidikan berpusat pada siswa, tujuan belajar lebih berfokus pada upayabagaimana membantu para siswa melakaukan revolusi kognitif. model pembelajaranperubahan konseptual (Santyasa, 2004) merupakan alternatif strategi pencapaian tujuanpembelajaran tersebut.
8 PEMBELAJARAN yang fokus pada proses PEMBELAJARAN adalah suatunilai utama pendekatan konstruktivstik. Fokus yang kedua transfer belajar, mendasarkan diri pada premis siswa dapatmenggunakan dibandingkan hanya dapatmengingat apa yang dipelajari . Satunilai yangMakalahI Wayan SantyasaDisajikan dalam pelatihan tentang Penelitian Tindakan Kelas bagi Guru-Guru SMP dan SMA di Nusa Penida,tanggal 29 Juni 1 Juli 20074dapat dipetik dari premis tersebut, bahwameaningful learning harus diyakini memilikinilai yang lebih baik dibandingkan denganrote learning, dandeep understanding lebihbaik dibandingkansenseless memorization. Konsep belajar bermakna sesungguhnya telahdikenal sejak munculnya psikologi Gestal dengan salah satu pelopornya Wertheimer(dalam Mayer, 1999). Sebagai tanda pemahaman mendalam adalah kemampuanmentransfer apa yang dipelajari ke dalam situasi baru.
9 Fokus yang ketiga bagimana belajar (how to learn) memilikinilai yang lebihpenting dibandingkan dengan apa yang dipelajari (what to learn). Alternatif pencapaianlearning how to learn, adalah dengan memberdayakan keterampilan berpikir siswa. Dalamhal ini, diperlukan fasilitas belajar untuk ketarampilan berpikir. Belajar berbasisketerampilan berpikir merupakan dasar untuk mencapai tujuan belajar bagaimana belajar(Santyasa, 2003).Desain PEMBELAJARAN yang konsisten dengan tujuan belajar yang disasar tersebuttentunya diupayakan pula untuk mencapai hasil belajar sesuai dengan yang tentang hasil belajar yang berasal dari tujuan belajar kekinian tersebuthendaknya bergeser darino learning danrote learning menujuconstructivistic learning, miskin dengan retensi, transfer, dan hasil belajar.
10 Siswa tidakmenyediakan perhatian terhadap informasi relevan yang learning, hanyamampu mengingat informasi-informasi penting dari pelajaran, tetapi tidak bisamenampilkan unjuk kerja dalam menerapkan informasi tersebut dalam memecahkanmasalah-masalah baru. Siswa hanya mampu menambah informasi dalam learning dapat menampilkan unjuk kerja retensi dan transfer. Siswamencoba membuat gagasan tentang informasi yang diterima, mencoba mengembangkanmodel mental dengan mengaitkan hubungan sebab akibat, dan menggunakan proses-proseskognitif dalam belajar. Proses-proses kognitif utama meliputi penyediaan perhatianterhadap informasi-informasi yang relevan denganselecting, mengorganisasi infromasi-informasi tersebut dalam representasi yang koheren melalui prosesorganizing, danmengintegrasikan representasi-representasi tersebut dengan pengetahuan yang telah ada dibenaknya melalui prosesintegrating.