Transcription of DAFTAR - kemkes.go.id
1 DAFTAR . ISI. Topik Utama Situasi Balita Pendek (Stunting). di Indonesia 01 6. A. Situasi Global 6. B. Definisi 7. C. Situasi Nasional 7. D. Situasi Ibu dan Calon Ibu 9. E. Situasi Bayi dan Balita 13. F. Situasi Sosial Ekonomi dan Lingkungan 15. G. Dampak 17. H. Upaya Pencegahan 17. DAFTAR Pustaka 18. 02. Asupan Gizi yang Optimal untuk Mencegah Stunting 19. A. Pendahuluan 19. B. Proses Terjadinya Stunting 20. C. Strategi Mengatasi Stunting 25. D. Strategi Perbaikan Gizi Masyarakat Masa Lalu yang Perlu Dilakukan Sekarang 28. Kesimpulan 29. DAFTAR Pustaka 30. Investasi Gizi untuk Perbaikan Generasi 03 31. A. Mengapa Perlu Investasi Gizi 31. B. Bagaimana Berinvestasi dengan Bidang Gizi? 32. C. Investasi Gizi di Indonesia 34. Kesimpulan 36. DAFTAR Pustaka 37. 04. Pencegahan Stunting dan Pembangunan SDM 38.
2 DAFTAR Pustaka 43. i Cegah Stunting, itu Penting. SALAM. REDAKSI. Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas terbitnya Buletin Jendela Data dan informasi Kesehatan Edisi 1 Semester I tahun 2018 ini. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan kali ini mengangkat topik tentang Stunting. Stunting merupakan salah satu masalah gizi yang sedang dihadapi Indonesia. Hal ini menjadi penting karena menyangkut kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa yang akan datang. Upaya pencegahan dan penurunan angka stunting tidak dapat dilakukan hanya oleh sektor kesehatan, tetapi dengan melibatkan lintas sektor dan tentunya dari dalam keluarga itu sendiri. Pada buletin ini terdapat artikel-artikel terkait topik diantaranya Asupan Gizi yang Optimal untuk Mencegah Stunting, Investasi Gizi untuk Perbaikan Generasi, dan Pencegahan Stunting dan Pembangunan Sumber Daya Manusia.
3 Pada kesempatan ini kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan dan penerbitan buletin ini. Semoga bulletin ini bermanfaat bagi kita agar turut berkontribusi dalam perbaikan gizi untuk generasi mendatang. Selamat membaca. Redaksi Cegah Stunting, itu Penting. ii TIM. REDAKSI. Pelindung Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan dr. Untung Suseno Sutarjo, Pengarah Kepala Pusat Data dan Informasi Dr. drh. Didik Budijanto, Penanggung Jawab Kepala Bidang Pengelolaan Data dan Informasi drg. Rudy Kurniawan, Redaktur Nuning Kurniasih, , Apt, Penyunting Eka Satriani Sakti, SKM. Desainer Grafis/ Layouter Rizqitha Maula, Sekretariat Annisa Harpini, SKM, MKM. Mitra Bestari Atmarita, MPH, Yuni Zahraini, SKM, MKM. Akim Dharmawan, PhD. Alamat Redaksi Pusat Data dan Informasi Jl.
4 HR. Rasuna Said Blok X-5 Kav. 4-9, Lantai 10, Blok A. Jakarta 12950. Telp: 021-5221432, 021-5277167-68. Fax: 021-5203874, 021-5277167-68. iii Cegah Stunting, itu Penting. SEK APUR. SIRIH. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Stunting adalah masalah gizi kronis pada balita yang ditandai dengan tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan dengan anak seusianya. Anak yang menderita stunting akan lebih rentan terhadap penyakit dan ketika dewasa berisiko untuk mengidap penyakit degeneratif. Dampak stunting tidak hanya pada segi kesehatan tetapi juga mempengaruhi tingkat kecerdasan anak. Anak merupakan aset bangsa di masa depan. Bisa dibayangkan, bagaimana kondisi sumber daya manusia Indonesia di masa yang akan datang jika saat ini banyak anak Indonesia yang menderita stunting. Dapat dipastikan bangsa ini tidak akan mampu bersaing dengan bangsa lain dalam menghadapi tantangan global.
5 Untuk mencegah hal tersebut, pemerintah mencanangkan program intervensi pencegahan stunting terintegrasi yang melibatkan lintas kementerian dan lembaga. Pada tahun 2018, ditetapkan 100 kabupaten di 34 provinsi sebagai lokasi prioritas penurunan stunting. Jumlah ini akan bertambah sebanyak 60 kabupaten pada tahun berikutnya. Dengan adanya kerjasama lintas sektor ini diharapkan dapat menekan angka stunting di Indonesia sehingga dapat tercapai target Sustainable Development Goals (SDGs) pada tahun 2025 yaitu penurunan angka stunting hingga 40%. Dipilihnya topik Stunting pada Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan edisi tahun 2018. ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan informasi kepada masyarakat luas tentang situasi, kondisi, penyebab, dan dampak stunting bagi bangsa ini. Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat dan tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan ini.
6 Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Jakarta, Oktober 2018. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. Dr. drh. Didik Budijanto, NIP. 196204201989031004. Cegah Stunting, itu Penting. iv TOPIK UTAMA. 01 Situasi Balita Pendek (STUNTING). di Indonesia (Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI). A. Situasi Global Kejadian balita pendek atau Gambar 1. Tren Prevalensi Balita Pendek biasa disebut dengan stunting di Dunia tahun 2000-2017. merupakan salah satu masalah 32,6. 35. gizi yang dialami oleh balita di 29,3. dunia saat ini. Pada tahun 2017 30 26,1. 23,2 22,2. 22,2% atau sekitar 150,8 juta balita 25. di dunia mengalami stunting. 20. Namun angka ini sudah mengalami 15. penurunan jika dibandingkan 10. dengan angka stunting pada tahun 5. 2000 yaitu 32,6%. 0. 2000 2005 2010 2015 2017.
7 Pada tahun 2017, lebih dari sumber: Joint Child Malnutrition Eltimates, 2018. setengah balita stunting di dunia berasal dari Asia (55%) sedangkan lebih dari sepertiganya (39%) tinggal di Afrika. Dari 83,6 juta balita stunting di Asia, proporsi terbanyak berasal dari Asia Selatan (58,7%) dan proporsi paling sedikit di Asia Tengah (0,9%). Gambar 2. Proporsi Jumlah Balita Pendek di Asia tahun 2017. 4,2 0,9. 4,8. Asia Selatan 14,9 Asia Tenggara Asia Timur Asia Barat Asia Tengah 58,7. Sumber: Joint Child Malnutrition Eltimates, 2018. Menurut Data Data prevalensi balita stunting yang dikumpulkan WORLD World Health Organization (WHO), Indonesia termasuk ke dalam negara ketiga dengan prevalensi tertinggi HEALTH di regional Asia Tenggara/South-East Asia Regional (SEAR). Rata-rata prevalensi balita stunting di Indonesia ORGANIZATION tahun 2005-2017 adalah 36,4%.
8 1 Cegah Stunting, itu Penting. Gambar 3. Rata-rata Prevalensi Balita Pendek di Regional Asia Tenggara tahun 2005-2017. Thailand Sri Lanka Maldives Korea Utara Myanmar Bhutan Nepal Bangladesh Indonesia India Timor Leste 0 10 20 30 40 50 60. Prevalensi Balita Pendek Sumber: Child stunting data visualizations dashboard, WHO, 2018. B. Definisi Stunting (kerdil) adalah kondisi dimana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur . Kondisi ini diukur dengan panjang atau tinggi badan yang lebih dari minus dua standar deviasi median standar pertumbuhan anak dari WHO. Balita stunting termasuk masalah gizi kronik yang disebabkan oleh banyak faktor seperti kondisi sosial ekonomi, gizi ibu saat hamil, kesakitan pada bayi, dan kurangnya asupan gizi pada bayi. Balita stunting di masa yang akan datang akan mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal.
9 C. Situasi Nasional Kejadian balita stunting (pendek) merupakan masalah gizi utama yang dihadapi Indonesia. Berdasarkan data Pemantauan Status Gizi (PSG) selama tiga tahun terakhir, pendek memiliki prevalensi tertinggi dibandingkan dengan masalah gizi lainnya seperti gizi kurang, kurus, dan gemuk. Prevalensi balita pendek mengalami peningkatan dari tahun 2016 yaitu 27,5% menjadi 29,6% pada tahun 2017. Gambar 4. Masalah Gizi di Indonesia tahun 2015-2017. 35. 29 30. 25. 20 15. %. 10. 5. 0. 2015 2016 2017. Gizi Kurang Pendek Kurus Gemuk Sumber: Pemantauan Status Gizi, Ditjen Kesehatan Masyarakat Cegah Stunting, itu Penting. 2. Prevalensi balita pendek di Indonesia cenderung statis. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). tahun 2007 menunjukkan prevalensi balita pendek di Indonesia sebesar 36,8%.
10 Pada tahun 2010, terjadi sedikit penurunan menjadi 35,6%. Namun prevalensi balita pendek kembali meningkat pada tahun 2013 yaitu menjadi 37,2%. Prevalensi balita pendek selanjutnya akan diperoleh dari hasil Riskesdas tahun 2018 yang juga menjadi ukuran keberhasilan program yang sudah diupayakan oleh pemerintah. Gambar 5. Prevalensi Balita Pendek di Indonesia tahun 2007-2013. 40. 35. 30. 25 20. %. 15. 10 5. 0. 2007 2010 2013. Sangat Pendek Pendek Sumber: Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), Balitbangkes Survei PSG diselenggarakan sebagai monitoring dan evaluasi kegiatan dan capaian program. Berdasarkan hasil PSG tahun 2015, prevalensi balita pendek di Indonesia adalah 29%. Angka ini mengalami penurunan pada tahun 2016 menjadi 27,5%. Namun prevalensi balita pendek kembali meningkat menjadi 29,6% pada tahun 2017.